Sabtu, 29 Juni 2013

Gegap gempita di Palestina

Mempunyai beberapa teman dari Palestina online membuatku turut terbawa haru biru kemenangan Muhammad Assaf di Arab Idol. Cukup dramatis karena perjuangannya melalui tembok perbatasan Palestina dan Mesir, ditangkap polisi. Di tempat audisi tidak punya nomor, dikasih teman sesama Palestina juga yang merelakan nomornya. Dan dari sekian banyak negara di Arab masuk 27 besar, akhirnya grand final 3 besar, lalu juara Arab Idol.

Aku juga suka nyanyi, pernah ikut paduan suara. Menikmati musik dan olah vokal. Assaf yang berumur 23 tahun memang mempunyai suara menakjubkan, pantas jadi juara, tidak karena kisahnya untuk mengikuti Arab Idol yang dramatis.

Jadi ingat Fatin yang bikin gempar Indonesia soalnya nyanyi dengan suara unik tapi enak didengar dengan baju seragam sekolah dan jilbab. Biasa, yang namanya public figur itu jadi panutan, selama menjadi panutan untuk kebaikan aku ikut mendukung.

Tetap ada cahaya di balik peperangan di Palestina. Di Palestina, ada masjid yang pernah menjadi kiblat umat muslim. Masjid tempat sholat Nabi-Nabi dahulu. Tapi karena kejahatan konspirasi, konon zionis meyakini akan muncul Messiah yang akan memimpin dunia di Palestina. Sementara muslim beranggapan yang muncul adalah dajjal, maka Israel berusaha menguasai Palestina. Semoga muncul cahaya-cahaya lain yang menyelamatkan umat Islam di dunia...


Jumat, 28 Juni 2013

Sisi gelap di internet

Internet buat banyak orang seperti buang sampah. Aku pernah tertarik dengan profil laki-laki Arab, masih muda 27 tahun, dia punya Facebook page yang menuliskan tentang prestasinya dimuat oleh website resmi. Sedang berjuang meraih beasiswa master degree di Amerika. Sepertinya minat banget ngobrol sama aku awalnya, gak taunya cerita kecanduan sorry... masturbasi. Biasa, abis aku bilang kalo dia masih muda, dan percaya pada Allah, cobalah lebih mengontrol diri, langsung ilang illfeel sama komentarku tentang dia.

Facebook yang untuk orang Indonesia aku set supaya cuman Friend of Friend yang bisa request friend. Malah jarang yang kirim inbox. Tapi account Facebook aku yang untuk orang Arab, banyak yang request friend, kalo jawab telat aku mereka marah-marah.

Ada yang dari Libya bilang "aku gak suka kalo kamu pake hp buat fesbukan, pake laptop biar bisa buka webcam". Aku jawab "aku bukan pembokatmu, kok nyuruh-nyuruh gitu sih".

Ada juga nulis di timeline "aku kirim e-mail, jawab atau bilang goodbye". Aku baca e-mailnya kira-kira nulis gini "aku orang Irak, separuh Arab. Aku juga kesel sama Arab-Arab gila itu. Anggap aja mereka monyet atau anjing. Mereka memusnahkan suku Kurdi di Irak. Laki-laki Arab kalo ketemu perempuan gak menghargai, cuman dianggap obyek sex doang".

Beberapa orang ada yang maksa aku kasih skype id. Kalo ditolak marah-marah. Sekarang ada fasilitas facebook bisa ngatur siapa saja yang bisa liat kita online di chat aku manfaatin betul. Tau gak, daftarnya panjaaang... soalnya aku kalo pengen chat ma sapa gitu, dan males jawabin yang lain ya didaftarin namanya di daftar yang gak bisa liat kita online.

Ada laki-laki Mesir, bilang, aku lagi proses cerai, 5 bulan lagi aku bebas. Dia bilang lagi, aku suka sama kamu, kalo aku lagi gak ada kerjaan, kamu balas messageku ya, dan gak usah ngobrol sama laki-laki lain. Jadi maunya aku mesti standbye dan siap menjawab kalo dia message aku, maunya hehehe... aku coba ngertiin karakternya beberapa hari. Pernah miss waktu dia kirim message gak kujawab dia marah-marah. Lalu akhirnya aku bilang, "aku bukan apa-apamu kok nyuruh-nyuruh seenaknya sih". Dan yang jelas wanita Mesir itu maharnya mahaaaal bener, malah baru tunangan mesti udah disiapin tempat tinggal plus perabotan juga biaya hidup. Kalo "tunangan" abal-abal di internet kan bisa gratisan.

Aku pernah nulis status Facebook gini pake bahasa Inggris, banyak yang gak ngerti, soalnya mereka lebih ngerti kalo statusnya bahasa Arab, tapi biarin. "Aku belajar tentang wisdom di Islam. Aku pengen mengenal laki-laki Arab yang paham makna Qur'an. Sejak kecil sudah membaca Qur'an dan negaranya ketat dalam syariat. Tapi kenapa mereka kalo ketemu aku cuman membahas penis mereka yang kalo ereksi 7 inchi atau lebih. Maaf gak tertarik sama dick".

Ada laki-laki di Jordan gerah dengan statusku, kirim inbox, "itu cuman sebagian kecil laki-laki Arab. Banyak yang belajar Islam di universitas. Dan jangan belajar mistik dari sufi. Aku lulusan universitas Islam di Jordan". Wah, aku sendiri gak mengikuti ritual sufi, guruku mengajarkan bahwa tasawuf adalah berkaitan dengan kebersihan hati bukan ritual macam-macam dari buku Imam al Ghazali, masterpiece beliau Ihya Ulumiddin. Semua sesuai Qur'an dan hadits.

Aku juga pengen nulis sedikit uneg-uneg di sini, ada temen bloggerku dulu 2 tahun lalu kita suka diskusi Islam. Begitu dia ikutan kelompok yang suka nginep dari masjid ke masjid, dan bikin aku ketakutan setengah mati pada awalnya, pernah mimpi ketemu dia di belakangnya ada bayangan gelap besar. Dan aku dibuntuti bayangan gelap itu berbulan-bulan. Ciri-ciri blognya suka nulis konspirasi, illuminati, dan majang foto Osama bin Laden (pengagumnya katanya). Aku pernah nulis e-mail, kok bisa-bisanya kamu ikutan kelompok yang kalo malem di masjid baca-baca mantra. Aku juga kasih link buku kitab acuannya yang ditelaah ulama isinya banyak hadits palsu. Sekarang dia menghilang dari peredaran. Blognya gonta-ganti URL soalnya hatinya tidak pernah nyaman. Tidak menerima komentar untuk artikel yang dia tulis. Oh ya, dia curhat ma aku kalo pernah dibawa gaib ke dimensi merah dan waktu naik gunung masuk ke pasar yang rame. Sudahlah, banyak yang tau aku ribut sama dia, tapi orangnya sibuk sendiri dengan ritual-ritual dan baca-baca mantra dengan kelompoknya.

Aku yakin memang banyak orang Arab belajar Islam dan mempraktekkan. Tapi yang suka ngajak berperang atau ke Indonesia untuk kawin sementara di Puncak Jawa Barat (prostitusi dengan mahar dan akad nikah) juga banyak. Dan aku juga pernah beberapa kali dapat tawaran dijadiin "secret wife". Ngobrol dengan laki-laki Pakistan aku bilang "Orang Arab membaca Qur'an dan sholat di masjid tapi kelakuan bejat" komentarnya "stay away from Arabian".

Kalo orang Indonesia gimana.... Masjid banyak dibangun, tapi yang sholat jamaah sedikit. Korupsi dimana-mana dari tingkat bawah sampai atas. Aset negara dijual ke asing. Pendidikan luar biasa mahal. TV acaranya gosip melulu. Syrik melanda dimana-mana katanya tradisi.

Tapi tetap optimis, dan tetap berusaha beriman. Aku memang gak pake burkha, gak pake niqab, tapi aku juga belajar Qur'an, hadits dan mempelajari kebijaksanaan dari Islam. Gak cocok baju syar'i yang mesti pake rok kerudungnya ampe perut, aku tenggelam soalnya aku gak tinggi dan gak cocok buat aku yang kemana-mana naik sepeda. Juga gak cocok dengan hijabers yang high maintenance, baju mesti bermerk, mahal, serasi, dari kerudung, baju, rok, sepatu, tas. Yang penting aku sanggup beli dan merasa nyaman, tidak berlebihan di lingkungan Indonesia ini.

Kadang mikir... ya ampuuun... rasanya bener-bener kiamat udah dekat, setan berwujud manusia dimana-mana...

Looking for a real believer

I am looking for muslims who are real believers not just muslims. I want to discuss about Islam with her or him. But that's not easy, especially when I try to chat with men online. They are easily to get angry when I don't reply their message soon.

A believer will not be angry easily, because of unlimited patience. Everytime a believer try hard to be patient, so  will not be angry only for small things.

A believer fears to Allah. So a believer try hard to be honest all the time.

A believer like helping others who needy. That's what we learn from Qur'an, not selfish.

A believer always be grateful.

A believer will pray five times everyday. Because a believer feels peace when pray.

A believer will do everything to please Allah, and because of Allah. Even very hard to do that.

So I met some muslims on internet who really angry with me because of small things. Like I did not reply his message soon. Or I did not want to open my cam. May be they thought I had to give men the best service, if not they would be angry.

Last time I met an atheist who told me he was a muslim. But when I told him I wanted to go to Egypt (after Jeddah, Mekkah and Medinah) because I wanted to see pyramid, he said "why do you believe about that shit". I knew, he was not a muslim, he was an atheist.

Well... so far I met a very nice lady from USA, her name was Julie. She was a catholic but religious, and had strong spiritual. We could discuss many things, especially about human right.

I don't write many articles in English... sorry if there are many mistakes here. Thank you...

Kamis, 27 Juni 2013

Ternyata atheis ngaku muslim

Setelah berdiskusi berhari-hari dengan seorang yang MENGAKU muallaf padahal atheis. Mungkin dia pernah ke masjid, mungkin pernah mengucap syahadat, mungkin pernah membaca Al Qur'an, tapi hatinya atheis.

Ceritanya 7 tahun lalu saat dia masih beragama Kristen, dia pernah hidup bersama dengan seorang wanita Palestina. Katanya mereka sangat mencintai, sangat menyayangi tapi wanita ini mesti balik ke kampung halaman disuruh orang tuanya menikah dengan pria muslim. Pernikahan hanya bertahan 2 tahun, wanita Palestina yang katanya educated dan free spirit setelah bercerai pindah ke Jordania.

Setelah itu dia belajar tentang Islam, katanya sih, tapi menurutku gak ada yang nyantol. Coba deh, dia menceritakan tentang dirinya begini "I want to marry a good muslim woman". Kenyataannya, waktu aku bilang pengen ke Mesir karena di sana ada bukit Thursina, piramida dan banyak sekali masjid kuno, komentarnya "wake up, don't live in fantasy". Katanya lagi "why you think about that shit, I can give you good living and love".

Muslim itu melakukan rukun Islam dan percaya rukun Iman. Yang ngaku muslim tapi tidak melakukan rukun Islam berarti Islam KTP. Yang juga ngaku muslim tapi gak percaya rukun Iman berarti Islam KTP juga.

Sebetulnya pembicaraannya masih panjang, cuman males nulis di sini semua kayak misalnya dia bilang "I don't believe in heaven or hell, because science can't prove it".

Terakhir dia bilang mau ngundang aku ke Kanada, aku bilang enggak ah, ma kasih. Ya sudah katanya, pertemanan sampai di sini saja. Aku juga sebetulnya gak gitu tertarik sama dia, cuman pengen jelasin soal Islam aja. Biarpun dia gedhein fotoku yang aku kirim, di frame, dipasang di kantornya yang bergerak di bidang art & design... ah ngapain berurusan dengan orang ngaku beragama Islam tapi katanya Tuhan hanya fantasi aja...

 

Selasa, 11 Juni 2013

Tujuan yang baik dengan cara yang baik

Pernah ada diskusi di suatu forum anak-anak muda dengan indra ke-6 begini kira-kira...

"Kalo indigo itu emang bakat dari lahir. Sedangkan sihir adalah ilmu hitam tapi menggunakan bantuan jin jahat."

"Tapi bukannya indigo emang dari kecil bisa berkomunikasi dengan makhluk alam lain. Ada kecenderungan jadi minta nasehat atau dibocorin info rahasia."

"Coba kamu baca di link xxx dikatakan bahwa sihir boleh digunakan untuk tujuan baik kalo tidak ada jalan lain".

Aku sih diam saja, lagi malas berdebat. Tapi aku ingat kisah Sunan Kalijaga yang waktu itu belum jadi Sunan bergaya bak Robin Hood, merampok orang kaya untuk dibagikan pada orang miskin. Lalu muncul Sunan Bonang, yang menasehati Sunan Kalijaga agar tujuan baik adalah dengan cara yang baik. Merampok untuk kebaikan ibarat wudhu dengan air kencing.

Soal cerita semedi di air selama beberapa tahun, berjalan di atas air gak usah dibahas ya. Bicarakan tentang bagaimana belajar kebijaksanaan dari para wali saja. (dapat warning #just kidding)

Ada temenku cerita temennya dapat istri dengan ewes-ewes (minta bantuan dukun), tapi endingnya baik-baik saja. Tapi bagi orang beriman, ngapain juga minta bantuan dukun, dosa syrik atau menyekutukan Allah adalah dosa yang tidak diampuni Allah.

Kalo telanjur syrik terus bertaubat gimana. Kalo soal ini ulama yang berhak menjawab. Tapi aku pernah baca, keringanannya di akhirat. Bila kita punya dosa selain syrik, dan ada anak yang mendo'akan, ilmu bermanfaat, amal jariyah, maka dosa kita masih bisa diampuni. Sedangkan dosa syrik belum bertaubat hingga meninggal, tidak akan diampuni Allah. Itu hanya ada pendapat yang pernah aku baca. Mendefinisikan memang bisa beda-beda, yang penting berusaha jadi muslim yang lebih baik sajalah.

Tujuan yang baik seharusnya dengan cara yang baik. Kalo tidak ada jalan keluar yang baik misalnya ada pertanyaan begitu. Berarti belum cukup bertakwa, karena oleh Allah orang tawakal dan bertakwa mendapat rejeki dan jalan keluar yang tak disangka-sangka...

Senin, 10 Juni 2013

Under pressure

Beberapa tulisanku di sini aku tulis dalam keadaan under pressure. Kalo aku tidak dalam tekanan dahsyat (menurutku pribadi, dan tidak menurut orang lain) mungkin blogku tidak ada tulisannya, cuman copy paste.

Semua orang pasti pengen hidup makmur, ya gak... dihargai, kecukupan, dan disayangi pasangan hidup. Kenyataan hidup tidak seindah dan semudah itu. Biarpun udah tau secara teori "hidup hanya sesaat, lebih penting hidup di akhirat", atau "bersyukurlah selama kita masih bisa bernapas tanpa membeli", tapi kadang kesalahan teknis masih ada saja di luar kemampuan kita.

Pernah suatu saat aku numpang kendaraan teman laki-laki untuk mendatangi aqiqah seorang teman dalam komunitas yang sama. Berangkat bertiga, dua laki-laki, aku perempuan sendiri. Di tempat aqiqah, salah seorang temenku dijemput istrinya. Akhirnya aku pulang berduaan, tapi dibelokkan ke arah jalan dimana ada hotel jam-jaman di situ. Diajak ngobrol makan burger yang masih buka tengah malam. Aku beneran nangis bilang pengen pulang. Beberapa hari kemudian tersebar kabar kalo aku affair sama dia.

Pernah juga disidang sama kelompok teman akrab katanya "ada sumber bisa dipercaya kamu mengejar-ngejar suami orang". Dan aku gak ngerasa, itu kayak disidang, penuh dengan tekanan soalnya yang katanya sahabatku itu dia lebih percaya dengan sumbernya daripada ceritaku. Niatnya temenku meluruskan kesalahanku. Akhirnya beberapa bulan kemudian aku memutuskan gak gabung di gangku ini yang entahlah, memang aku merasa gak nyaman ketemu mereka lagi.

Semenjak memperdalam Islam, ada aja kejadian aneh-aneh, yang benar-benar tak terduga. Serentetan orang memblokirku di Facebook, padahal tadinya aku suka ikutan gabung ma mereka.

Kadang lucu memang, kalo aku membaca tulisan di komunitas indigo kalimatnya "aku merasa berasal dari planet lain, dimana orangnya saling menyayangi tidak menjatuhkan orang lain. Dekat dengan alam dan merawatnya. Di bumi serasa jadi alien."

Waktu aku di Bogor tinggal di rumah mertua (mantan), ada cucu mertua mau berulang tahun belum-belum dia teriak-teriak "si Ami gak boleh datang di ulang tahunku". Atau saat bulan puasa aku gak boleh ikutan makan hasil masakan mertua, alasannya gak nyumbang belanja. Mereka semua berbuka puasa, aku merasa sedih banget di kamar.

Di komunitas indigo kita saling sharing, mengingatkan, yang indigo dewasa (matang) memberi nasehat pada yang kekanakan, dan itu tidak bergantung pada umur. Tapi boleh dibilang semua merasakan menjadi seseorang yang dijauhi lingkungan.

Rasanya setan membisiki non indigo di sekitar indigo untuk menjatuhkan mental. Ada aja indigo bilang "aku gak nyaman jadi indigo, mending kemampuanku dihilangkan saja". Sebetulnya aku indigo apa bukan sih... yang jelas aku seperti bisa merasakan yang mereka rasakan. Indigo itu old soul, walau umur muda, jiwanya tua. Jadi diajak gaul, sulit, karena rasa empati yang tinggi, katakan gampang nangis melihat perang. Jadi mainnya bukan perang-perangan, tapi ngajak damai. Cuman susah, karena orang di sekitar sudah memandang aneh karena proses pemahaman kadang sulit dimengerti. Suka ngeliat yang gak diliat orang lain, ketakutan sendiri, atau bahkan lebih nyaman dengan teman yang gak kelihatan.

Sampe nekat kenalan dari orang luar, ajak chatting, siapa tau dapet yang pemahamannya sama. Ah, muslim di Arab lebih parah ternyata, banyak yang biadab. Tapi hidup jalan terus kan, dan terus ikhtiar untuk menjadi muslim yanglebih baik lagi...

At first, I thought I was an indigo. What is an indigo? People who have the psychic abilities, sixth sense. There is even a machine that can detect whether someone is an indigo or not. Then I learned about sufism. There are different types of sufism, thats why we have to be careful. Get closer to Allah, purify our heart, help others, and dont hurt someone's feeling. I hope I can find someone who can understand what I mean...

Minggu, 09 Juni 2013

Rasa syukur yang mendalam

Bila ada pertanyaan "lebih sulit mana antara bersyukur dan bersabar", aku rasa pertanyaan itu bukan hal yang pas. Karena bersabar itu dilakukan saat hati sedang galau karena sesuatu hal yang tidak kita kehendaki. Sedangkan bersyukur adalah bila kita bisa mengatasi rasa galau itu, sehingga bisa mensyukuri ni'mat hidup dari Allah. Karena sabar dan syukur bukan hanya untuk diucapkan atau sekedar teori tapi juga benar-benar dirasakan dan diamalkan.

Terus terang istilah "rasa syukur yang mendalam" terinspirasi dari buku Quantum Ikhlas (walaupun aku sudah mengganti gelombang alpha dari CD sisipannya dengan yang lebih natural yaitu gemericik air). Soalnya dalam gelombang yang tidak natural (buatan manusia) bisa disisipkan mantra-mantra yang kita tidak bisa dengar. Tentunya tidak semua CD gelombang alpha itu berisi mantra-mantra, tapi aku lebih suka bunyi yang natural.

Bacaan wirid menyebut nama Allah bila yang mengajarkan adalah guru dengan kesaktian suka membaca mantra (melenceng ketauhidannya) bukan mendekatkan diri dengan Allah, tapi malah memanggil jin jahat. Berdzikir itu dengan ucapan lembut, dan membuat hati tenang, bukannya teriak-teriak dan malah jadi histeris, menangis bahkan melakukan gerakan kepala yang tidak terkontrol.

Rasa syukur itu tidak hanya ucapan di bibir semata. Bangun tidur kita bersyukur, setelah makan kita bersyukur, dan apapun kita mensyukuri ni'mat Allah dalam hidup ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam rajin sholat malam adalah karena rasa syukur beliau yang mendalam pada Allah.

Orang yang bersyukur akan menikmati semua yang didapatnya. Makanan akan bisa menikmati, tidak perlu berlebihan. Baju juga secukupnya, tidak perlu belanja baju sampai mubazir berlebih-lebihan. Menjaga penampilan memang penting, sesuai dengan profesinya. Tapi bila dia beriman maka belanja baju tidak akan berlebihan.

Aku sendiri setiap hari mengingatkan diriku untuk selalu bersyukur, kadang aku lupa untuk bersyukur, bila segala sesuatunya rasanya begitu sulit. Dan akhir-akhir ini aku mengingatkan diriku untuk bersyukur secara mendalam, benar-benar dihayati...

Mudahnya bilang supaya sabar

Untuk mengatasi masalah menurut Islam adalah dengan sabar. Setiap kali kita dicurhati orang yang lagi sedih banget karena banyak masalah pasti kalimat pertama adalah sabar, sudah klise. Kadang orang yang kita nasehatin komentarnya "gampang banget ya kamu bilang sabar".

Bukan berarti aku tidak punya masalah, aku juga punya masalah. Kadang juga kalau tekanannya terlalu berat tanpa disadari air mata akan menetes. Katakanlah ada bagian tubuh yang terluka dan kita mesti menahan nyeri, air mata menetes sendiri tanpa bisa ditahan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menangis, tapi tidak sampai histeris dan berlarut-larut.

Ada temanku laki-laki yang sudah melewati kepala 3 tapi belum nikah suka cerita "aku kalo pas weekend jadi suka ngaco, males-malesan, nonton film jorok, tapi hari biasa nggak gitu-gitu amat kok". Aku jawab "kalo pas hari kerja kamu jadi beradab pas weekend jadi biadab gitu, bagusnya kamu nikah aja". Katanya "aku belum nemu yang pas, kamu tau aku gimana orangnya". Aku jawab lagi "kamu itu beruntung, punya orang tua, punya pekerjaan, kelemahanmu gagap di depan cewek. Cuman kamu bisanya ngomong sama aku, soalnya tanpa ngomong aku juga ngerti banget soal kamu, kita teman baik. Coba dong pas weekend ke fitness, ngobrol sama cewek pelan-pelan, gak mau mulai sih". Terus ya udah, kayaknya dia gak mau ngerubah kebiasaannya.

Pernah suatu ketika dia bilang "aku gak bisa ngontrol nih, sumpek banget otakku". Aku bilang "sabar dong". Jawabnya "gampang banget sih kamu bilang sabar, susah ngilangin sumpek, tau"...

SABAR itu punya makna mendalam memang, butuh PENEMPAAN supaya kita bisa sabar. Pemahamanku soal sabar juga tidak langsung ngerti. Tiga tahun lalu aku suka ngurung di kamar sambil nangis sampai matanya sembab, dan berpikir, kenapa hidupku begitu sulit. Lalu aku melihat diriku sendiri, aku tinggal di rumah yang layak, masih bisa beli baju, beli makanan, punya pekerjaan, punya tabungan, semua hal yang masih bisa disyukuri.

Tapi perkembangan waktu akhirnya kita punya keinginan-keinginan lebih. Pengen punya mobil sendiri, pengen rumah sendiri, pengen punya pasangan yang sayang sama kita. Obsesi orang memang berbeda-beda,  kasus ekstrim ada yang terobsesi punya wajah kayak Barbie sampai dioperasi plastik berkali-kali. Atau wanita Iran yang terobsesi merubah hidung betetnya dengan operasi jadi lebih langsing dan mendongak ke atas.

Mudah bilang "nikmati proses" seperti bilang "sabar". Orang yang tidak punya uang membayangkan kalau punya uang pasti bahagia. Sementara orang yang banyak uang membayangkan kalau ada yang menyayangi apa adanya bukan karena memandang hartanya pasti akan bahagia. Jadi belum tentu jadi orang kaya itu bahagia juga.

Butuh penempaan diri agar pikiran suntuk, sumpek itu hilang. Mengganti kebiasaan melakukan hal buruk dengan yang lebih baik. Karena makna SABAR adalah menahan, jadi kalau punya keinginan melakukan hal negatif misalnya menghisap lem kayak anak jalanan, ganti dengan mengkonsumsi buah segar, eh... ini contoh loh. Lalu ditambah dengan sholat sunat seperti Dhuha dan Tahajud.

Di Al Qur'an dinyatakan sabar dan sholat adalah cara untuk menghilangkan kegelisahan hati, Saat sholat, minta pada Allah untuk menambah kesabaran. Butuh proses dan penempaan diri.

Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Qur'an surat al-Baqarah ayat 153]

Bagi orang beriman kepada Allah, akan berusaha mencari jalan yang di ridhoi oleh Allah. Keinginan untuk merubah diri itu adalah termasuk hidayah dari Allah...

Baca juga link ini PENGHALANG HIDAYAH

Selasa, 04 Juni 2013

Ways to solving problems in Islam

Source : http://www.vanguardngr.com/2012/03/ways-of-solving-problems-in-islam/

When a Muslim encounters a problem, he must realize the fact that he needs the intervention of Allah to solve the problem and this can only be achieved through divine mercy and by involving in different virtuous deeds. Virtuous deeds elicit Allah’s mercy and reduce Allah’s anger, prevent His punishment and pave the way for solution to a problem.

The deeds include: 

(i) Believe in Allah:
A Muslim in problem must not only believe but strengthen his/her believe, love and closeness to Allah. It must be noted that at no point must a Muslim lose faith in Allah because it is the foundation of other deeds in Islam. This is applicable to all problems with exception of those suffering from severe mental disorders or total insanity. (for details, see Muhammad AL-Jibali;(2003): Sickness, Regulations & Exhortations p.61)

(ii) To attribute the Problem to Allah:
unlike the non-Muslims that usually attribute their problems to creatures of Allah, a Muslim must attribute his/her problem to Allah and not to any creature of Allah ; and must accept that whatever struck him could not have missed him, and that it was ordained before he was created. See Qur’an (57Al- Hadid: 22-23).

(iii) To have good thoughts about Allah:
- A Muslim should maintain good thoughts about his Lord, turning only to Him in worship and supplication, remembering His great generosity, and looking forward to His blessings and forgiveness. Jabir Bin Abdullah (RA) reported that the Messenger (SAW) said: “None of you should die without having good expectations in Allah (SWT).”

(iv) BETWEEN FEAR AND HOPE: 
One must simultaneously show fear (Khauf) and hope (Raja’) :fearing Allah’s punishment for his sin, and hoping for Allah’s mercy. Allah says about the true believers: “They invoke their Lord with fear and hope, they spend out of what we bestowed on them.”(Q32:16). (Muhammad AL-Jibali op citp.63)

SABR (perseverance):
A Muslim must learn to be steadfast and very resolute with Allah during this period of adversities. He/she must realize that every supernatural healing property other than the correct Islamic way is deceptive and usually bear a grave consequence either immediate or later in life.

When struck by an affliction, a believer should exhibit patience and perseverance. He should never rebel or express dissatisfaction with Allah’s decree. This is called – Sabr.

Furthermore, a believer should trust that Allah who will reward him for his affliction. This is called ihtisab.

Abdullah bin Amr reported that Allah’s Messenger said: When Allah deprives one of His believing servants from a loved one, if he displays sabr and ihtisab, Allah will not approve for him a reward other than jannab. (An-Nisaai )

Sabr and ihtisab are two aspects of one obligation: full submission to Allah’s decree. They are important actions of the heart that should be displayed by believers during times of affliction.

SABR: When a person is struck by an affliction, he should display patience and acceptance of the calamity that struck him. Allah says; Patience should be manifested from the beginning, and should not be marred or damaged by the magnitude of the loss.

Anas reported that Allah’s Messenger (s.a.w) passed by a woman crying next to a grave. He told her: Have taqwa of Allah, and be patient. Not recognizing him, she responded, “Leave me alone, you have not been struck by an affliction like mine!” She was then told that he was Allah’s Messenger (s.a.w). Extremely distressed and agitated at her blunder, she hastened to him and said, “O Allah’s Messenger, I did not recognize you.” The Messenger (s.a.w) replied; Indeed, patience should bedisplayed at the beginning of the affliction.

NOTE: None of you should die without having good expectations in Allah. Duah (Supplication) A Muslim in distress must call Allah through the lawful means i.e that is prayer from the Quran or Sunnah in order to achieve perfect solution to his problem.

Unfortunately evidences abound that testify to the fact that a lot of Muslims today approach Allah through un-Islamic way which we shall discuss. To call Allah at the time of problem is the practice of prophet Muhammad and other prophets as contained in the Quran and Hadith.

Gratefulness: The Essence of Islam

Source : http://islamicinsights.com/religion/religion/gratefulness-the-essence-of-islam.html

One of the best gifts Allah swt has granted mankind is the ability to feel and express gratitude. Being grateful at the most basic level is very simple and very beneficial. It is simple because it requires no special knowledge, skill, equipment, or preparation - anyone can access the gift of thankfulness. Yet most of us fall short of the mark in expressing due thanks for what others do, and probably all of us owe far more thanks to Allah (swt) than we even understand. However, improvement is also simple: just make it a practice to notice blessings and kindnesses, to think about them, and to honor them.

One reason gratitude is beneficial is because it improves relationships, - whether interpersonal or with our Creator. When we can feel and express appreciation for God's blessings or other's kindnesses, affection grows. But the personal benefits are also great; a thankful heart is a content and awed heart. Even in times and circumstances of hardship, we always have much to appreciate. When we acknowledge this, our burdens are easier to bear.

Imam Sadiq (as) wrote in Lantern of the Path,
"With every breath you take, a thanksgiving is incumbent upon you, indeed, a thousand thanks or more. The lowest level of gratitude is to see that the blessing comes from Allah irrespective of the cause for it, and without the heart being attached to that cause. It consists of being satisfied with what is given; it means not disobeying Him with regard to His blessing, or opposing Him in any of His commands and prohibitions because of His blessing."

Our breathing comes without thought, and yet each breath is a blessing. The struggle for breath is an agony that we are usually spared thousands upon thousands of times without thanking for it. If the gift of breath is taken from us, we will die; breath is life. It is but one of countless examples of blessings from God we owe thanks for. At the very least, we should appreciate that it is a gift from God, be satisfied with the gift, and never use the gift of breath for anything opposing Allah swt. One could possibly say that if we truly wish to express gratitude for the gift of breath, we must never allow ourselves to purposely breathe in any haram substances and we must never use our breath to utter any lies, backbiting, or other haram speech. For even if we claim to feel gratitude, the proof of real thankfulness comes in our actions. If we are thankful for a gift, we will not be careless with it. If someone gave you a birthday present you really loved, you would use it with caution in order to protect it. Similarly, if we are truly grateful for the blessing of breath, we will use it with caution, too.

Imam Sadiq (as) continues:
"Be a grateful bondsman to Allah in every way, and you will find that Allah is a generous Lord in every way. If there were a way of worshipping Allah for His sincerest bondsman to follow more excellent than giving thanks at every instance, He would have ascribed to them the name of this worship above the rest of creation. Since there is no form of worship better than that, He has singled out this kind of worship from other kinds of worship, and has singled out those who practice this kind of worship, saying,

 وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Very few of my servants are grateful. (34:13)

" Expressing thanks to God is a great form of worship, and at the minimum is part of our daily prayers. Allah swt has taught us that when we give thanks, blessings increase. Not only is this true about the blessings directly from God, but it applies for gratitude to the blessings of Allah swt that come from people as well. For example, a child who demonstrates true appreciation for Eid gifts or quality time spent with daddy inspires the giver to happily continue to give to that child, while a child who seems to take a gift for granted or does not seem to like or appreciate it may find the giver less generous in the future. God is not in need of our thanks and is not hurt in the least by our ingratitude, but gratitude enriches us immeasurably. "Allah is not in need of the obedience of His bondsmen, for He has the power to increase blessings forever. Therefore be a grateful bondsman to Allah, and in this manner you will see wonders." (Ibid.)

Even feeling and expressing gratitude is itself a merciful blessing from God. "Complete thankfulness is to sincerely repent your inability to convey the least amount of gratitude, and expressing this by means of your sincere glorification of Allah. This is because fitting thanks is itself a blessing bestowed upon the bondsman for which he must also give thanks; it is of greater merit and of a higher state than the original blessing which caused him to respond with thanks in the first place. Therefore, every time one gives thanks one is obliged to give yet greater thanks, and so on ad infinitum, and this while absorbed in His blessings and unable to achieve the ultimate state of gratitude. For how can the bondsman match with gratitude the blessings of Allah, and when will he match his own action with Allah's while all along the bondsman is weak and has no power whatsoever, except from Allah?" (Ibid.)

The world would be a better place if we were more grateful to Allah swt and to others. Therefore, I would like to publicly thank God for His continued mercy toward me, and to thank my parents for their love. Those few words are not adequate at all, but should not be left unsaid. I invite readers to use the comments section to thank Allah swt and/or any person.

Sabtu, 01 Juni 2013

Mengatasi jerawat dengan virgin coconut oil (VCO)

Ada kostumer pembeli kosmetik Virgin Natural protes, kok artikel menghilangkan jerawat dihapus sih. Sebetulnya bukan dihapus, tapi mau ditulis lagi dengan kalimat yang lebih baik.

Penjelasannya begini, VCO tidak hanya dikonsumsi sebagai suplemen untuk mengatasi banyak penyakit, tapi bila dioleskan di wajah, bisa memperbaiki kondisi kulit termasuk menghilangkan jerawat.

Waktu aku berjerawat, memutuskan untuk mengoleskan VCO secara rutin, dan alhamdulillah jerawatnya jadi menghilang walau bertahap. Kostumerku ini cerita kalau wajahnya rusak karena menggunakan kosmetik yang tidak jelas mereknya cuman dengan embel-embel "racikan dokter". Cepat sekali memutihkan, tapi begitu berhenti kulit jadi jerawatan dengan benjolan cukup besar-besar. 

Ini fotoku sebelum dan sesudah menggunakan VCO. Tidak menggunakan Photoshop ya, saksinya rekan-rekan di tempat aku kerja yang melihat wajahku sempat bengkak setelah facial di salah satu klinik kecantikan ternama di kotaku, lalu aku treatment sendiri dengan VCO.




VCO yang aku gunakan diproduksi cv PPKT Yogyakarta. Produk VCO yang murni herbal untuk kosmetik diberi nama FACE OIL, murni herbal 100% tanpa bahan kimia hanya mengandung VCO dan minyak atsiri bunga kenanga.





Bila proses pemulihan ingin lebih cepat bisa menggunakan propolis, yang merupakan produk lebah selain madu, sarang, bee pollen, royal jelly.


Informasi selengkapnya di blog di bawah ini, silakan klik pada gambar...


www.herbal-penuh-khasiat.blogspot.com