Sebetulnya aku sudah tidak ingin membahas tentang tulisanku yang berjudul kurang lebih seputar JILBAB TIDAK WAJIB. Komentar yang masuk ke sana sudah aku tutup. Tapi ada saja yang mengirimiku e-mail tentang topik itu.
Pertama seorang wanita yang menyatakan tentang kerelaan hatinya menggunakan jilbab untuk mendapatka surga di e-mail pertama. Lalu aku jawab, terus terang aku lebih melihat seseorang dari akhlak, kebaikan hati, jiwa sosial bukan dari jilbabnya. Soalnya orang berjiwa sosial yang tidak pakai jilbab itu lebih mudah diajak untuk bekerja sama dibandingkan yang pakai jilbab super longgar, mengurung diri, gak bisa ambil keputusan dengan cepat. Apalagi yang kerudungnya lebar itu biasanya anaknya banyak jadi cuman sibuk ngurusin anak yang lahir hampir tiap tahun.
Menurutku lagi kelompok hijabers itu punya banyak nilai positif. Menggunakan hijab secara trendy, banyak melakukan pengajian, dan berjiwa sosial. Cuman gak kuatnya kalo aku ikutan hijabers, bajuku yang minimalis, tidak punya semua warna. Kelompok hijabers yang pecinta mode itu bahkan pengajian ada dress code, warna ungu, pink, merah atau apalah. Terus kalo pas kondangan pake baju tertutup dengan payet-payetan heboh. Mungkin aku diketawain soalnya aku kalo kondangan pake baju minimalis tanpa payet, gak sanggup aku ngikutin selera mode kelompok hijabers. Selain selera bajuku yang minimalis, juga gak bisa pake kerudung aneh-aneh. Tapi toh aku perlu acungkan jempol pada kelompok hijabers yang bisa membuat wanita pecinta mode jadi tertarik menggunakan baju tertutup. Kalo aku sih, jangan cari aku di peragaan busana, cari aku di lapangan softball.
Tapi e-mail kedua dari wanita ini cerita, bahwa pacarnya menyuruh untuk tidak boleh menggunakan jilbab. Ya aku langsung jawab sebaiknya shalat istikharah saja karena seharusnya kalo orang beriman melihat yang dicintai berubah ke arah kebaikan didukung. Kita mencari calon suami adalah keimanannya diprioritaskan bukan dari yang lain.
Lalu ada e-mail seorang laki-laki yang menyatakan bahwa dia bernapas lega membaca tulisanku. Soalnya semua pengajian di lingkungannya menyatakan yang gak pake jilbab, gak pake jenggot, gak pake celana congklang masuk neraka. Kayaknya aku jauh lebih beruntung, karena di lingkunganku pengajian tidak pernah membahas kostum. Siapapun berhak belajar Islam. Termasuk wanita yang pakai kerudung pendek, atau memakai selendang kayak Afriyani. Tidak ada penghakiman kostum adalah syarat utama untuk masuk surga.
Pertama kali belajar Islam, yang diceritakan guruku adalah kisah pembunuh yang masuk ke surga karena bertaubat. Padahal terakhir kali yang dilakukan adalah membunuh seseorang yang menyatakan dia akan masuk neraka karena sudah membunuh orang 99 orang. Dalam perjalanan malaikat Ridwan dan Malik memperebutkan laki-laki ini apa mau dimasukkan ke surga atau neraka. Ternyata karena jarak menuju desa orang yang beriman lebih dekat akhirnya masuk surga.
Lalu aku juga membaca kisah seorang pelacur karena ketidak tahuannya sehingga melacur. Sikapnya memutuskan untuk membantu anjing yang hampir mati membuatnya masuk surga.
Atau cerita lain tentang mimpi seorang bertemu Al Ghazali yang bercerita bahwa beliau masuk surga bukan karena buku-bukunya tapi karena menyelamatkan lalat yang kecemplung di tintanya.
Kita tahu bahwa Allah melihat seseorang bukan dari wajah atau harta tapi dari hati. Para ahli ibadah berpendapat bahwa hanya dengan rajin beribadah membuat hati jadi bersih. Tapi yang aku tangkap bukan itu. Hati yang bersih adalah selain taat beribadah juga hati yang sibuk membantu orang lain, menyelamatkan jiwa orang lain, membahagiakan orang lain. Masalah kostum itu menyusul. Perbaikan hati dahulu lebih penting daripada perbaikan kostum apakah itu jilbab atau jenggot. Guruku cucu pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan menyatakan, dulu ada perang karena bajunya sama makanya orang Islam menggunakan jenggot tanpa kumis untuk membedakan dengan orang kafir yang jahat (yang jahat lho, bukan kafir yang menghargai muslim). Jaman sekarang tidak ada perang di Indonesia secara fisik, malah perang teknologi. Jadi kita mesti juga menguasai teknologi dan tentunya sambil mengasah kepekaan dan kebersihan hati. Orang-orang yang bercelana congklang kebanyakan akhirnya berdagang, terus nanti yang menguasai teknologi siapa. Tapi tidak semua orang dengan celana congklang, soalnya ada seorang praktisi fisioterapi yang aku kenal mempunyai jenggot dan bercelana congklang menguasai profesinya sibuk mengajarkan gerakan shalat yang benar untuk kesehatan ditinjau dari segi medis.
Semakin belajar Islam dipersulit, semakin orang menjauh dari Islam. Lagi-lagi aku beruntung tempat aku kerja sangat mendukung teknologi. Aku mengajar di bidang PAUD, dan untuk SMP dan SMA ada sekolah internasional yang mendukung menguasai teknologi, juga mengasah bakat, dan ada belajar akhlak Islami serta membaca Al Qur'an.
Belajar Islam dimulai dari saling menghargai, saling menyayangi, mengingatkan tentang kebaikan, menolong sesama yang kekurangan, bukan dari kostum ini menurutku. Lingkunganku sangat mendukung pemikiranku ini, teman-temanku, guru tempat aku belajar Islam. Jadi yang ingin belajar Islam tanpa dimulai dari penekanan kostum aku perkenankan datang ke rumahku untuk berdiskusi. Rumah keluargaku sekalian tempat kerjaku. Ada Pendidikan Anak Usia Dini, ada sekolah belajar Al Qur'an sore hari, pengajian bapak-bapak, sekolah bagi yang berusia di atas 50 tahun. Dimulai dari ide bapakku almarhum yang membuat garasi kecil di rumah lama seukuran satu mobil untuk tarawih. Lalu bapak memberi amanat pada putri-putrinya (tidak ada putranya soalnya) yang menyatakan agar rumah peninggalan beliau ini dijadikan ladang, tabungan untuk bekal di akhirat.
Sedikit mengenang almarhum bapakku, beliau berhati lembut, sabar, suka menolong orang lain. Meninggal dengan sangat tenang saat shalat Shubuh padahal beliau menggunakan celana panjang menyentuh tanah mempunyai kumis dan tidak mempunyai jenggot. Juga mengenang almarhum mertua kakak kandungku seorang wanita yang sabar, sibuk mencari nafkah karena suaminya sakit, bersikap santun pada orang lain meninggal saat melakukan ibadah haji, padahal beliau selama ini menggunakan baju yang wajar dipandang orang Indonesia dan jarang menggunakan jilbab sehari-harinya...
Baca juga
Menurut Quraish Shihab jilbab tidak wajib benarkahCara agar bidadari surga cemburu pada wanita bumiApa dan bagaimanakah orang munafikTerenyuh