Senin, 08 April 2013

Melepaskan diri dari ikatan gaib

Kasus eyang subur mengingatkan aku akan kejadian yang menimpaku. Waktu tahun 2003, aku dalam kondisi depresi. Kenapa... ada sesuatu, tapi gak usah ditulis di sini ya. Aku memutuskan untuk pindah pergi ke luar kota, tanpa seizin orang tuaku.

Mirip kayak kasus pertikaian eyang subur yang sekarang lagi rame itu, ada seseorang yang mengaku mau menyembuhkan depresiku. Dia bilang mau menunjukkan jalan ke surga, kalo aku mau nurut sama dia. Waktu itu dia banyak nyebut istilah-istilah yang aku gak paham, sekarang udah mulai ngerti dari guru yang bener, dosen-dosen yang mengisi pengajian bapak-bapak di tempatku.

Kalo lagi blank, bingung, mencari pegangan, memang saat-saat yang berat. Walau bicaranya tinggi sepertinya paham dengan kitab-kitab tanpa membaca. Tadinya aku gak tau model gaib-gaib gitu. Tapi mendengar kasus eyang subur yang mengatakan eyang gaib di dalam dirinya minta menikah terus, aku jadi ingat alasan aku balik lagi ke Jogja. Aku pindah karena aku jadi saksi orang yang mau mengajariku tubuhnya seperti dilempar ke tembok, dan itu terjadi semalaman.

Semenjak pindah ke Jogja 2009, aku banyak mendapat gambaran-gambaran aneh, tapi semua aku abaikan karena aku lebih suka hidup di dunia nyata. Biasanya kalo muncul gambaran aneh, aku keluar rumah naik sepeda yang jauh sambil berdzikir. Walau gambaran itu muncul seperti manusia yang alim dan memberi wejangan-wejangan. Aku lebih suka membaca Al Qur'an.

Bagi orang-orang tertentu memang lebih suka untuk mendengarkan dan menuruti bisikan gaib. Aku berusaha semampuku untuk menghindar dari itu semua lebih baik membaca di kitab yang nyata, menelaah dengan yang lebih paham. Setauku, bila kita membiarkan terikat dengan gaib, sulit untuk lepas. Dalam kasusku, untuk lepas dari ikatan gaib butuh waktu berminggu-minggu, gemeteran, gak punya suami lagi yang nemenin aku, aku bener-bener sendirian. Ada bantuan, tapi sulit dijelaskan, bantuan doa sangat banyak dan sangat bermanfaat, tapi tetap diri sendiri yang mesti berusaha keras untuk berubah.

Sepintas saja, mendengar penjelasan murid eyang subur yang mengatakan ada eyang gaib di tubuhnya, aku sudah tau eyang subur sudah dipengaruhi gaib. Gak peduli dia kaya, mudah untuk memperistri wanita cantik sampai istrinya berderet-deret, tapi itu adalah jalan yang tersesat. Memang aneh, banyak manusia memilih jalan sesat untuk memuaskan hawa nafsunya, sebetulnya tidak aneh sih, memang begitulah ditulis di Al Qur'an, godaan setan ada di mana-mana. Sepertinya menyenangkan, punya uang banyak mengalir tak henti-henti, tapi itu hartanya panas, dan akan menyeret ke neraka lebih dalam. Sekarang gak peduli, yang penting kaya, menyesalnya nanti, saat menjelang kematian akan nampak jelas, ketemu malaikat pencabut nyawa dalam keadaan baik atau mengerikan.

Semoga kita bisa menghindari jalan tersesat, memilih jalan lurus yang diridhoi Allah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar