Rabu, 15 Agustus 2012

Sebaiknya tidak menggugat keimanan orang lain

Akhir-akhir ini timeline twitter tambah panas aja. Kasus pencalonan Gubernur DKI banyak yang memihak sana memihak sini. Ada kelompok beranggapan, kita ini Indonesia, pertimbangkan supaya bisa menerima cawagub non Muslim berdasarkan prestasi bukan karena agamanya. Kelompok lain beranggapan pokoknya cagub dan cawagub DKI mesti muslim apapun alasannya. Karena panas begitu aku pilih unfollow yang SARA. Aku sampai ganti profil twitterku...




Bukannya apa-apa. Karena orang yang beragama Islam ada tingkatannya. Ada muslim, lalu mukmin. Bulan Ramadhan ini kita berusaha meningkatkan dari tingkat mukmin menjadi muttaqin. Seorang yang yang berilmu tinggi dalam Islam belum tentu dia seorang mukmin kalo hobinya main semprot sana semprot sini. Sibuk nyalahin orang ini orang itu sampai lupa untuk sedekah atau berbuat kebaikan. Menurutku sih tujuan baik adalah dengan cara baik. Seperti nasehat Sunan Bonang kepada Raden Said sebelum menjadi Sunan Kalijaga "membantu orang lain dari hasil tidak halal adalah seperti berwudhu dengan air kencing". Lakukan hal yang tujuannya baik dengan cara yang baik.

Kita itu tinggal di Indonesia. Bebas kalo mau pake surjan dan blangkon. Apa iya sih laki-laki beriman itu mesti pake jenggot? Siapa yang meragukan bahwa Para Wali itu manusia pilihan yang diutus oleh Allah mengIslamkan pulau Jawa. Siapa yang meragukan keimanan mereka, padahal Sunan Kalijogo tidak mempunyai jenggot malah memelihara kumis dan menciptakan baju takwa (baju koko yang banyak dibeli saat menjelang lebaran untuk shalat Ied). Aku tetap menghargai orang yang mempunyai kumis dan tidak memelihara jenggot (seperti almarhum bapakku). Aku juga sempet jatuh hati pada orang yang mempunyai kumis tanpa jenggot (ohhh... sayang aku terpaksa menutup lembaran kisahku dengannya), karena dia orang yang sangat support dan baik padaku. Selain itu aku sering disakiti hati oleh orang yang mengaku-aku muslim taat. Kalo mau pake jenggot boleh, tapi juga perbaiki akhlak. Menurut guruku memperbaiki akhlak itu wajib tapi memelihara jenggot itu sunnah.

Ini ada cuplikan postinganku di blog lain Apa dan bagaimanakah orang munafik

Sehingga Allah memperingatkan kepada manusia dalam Surat Al-Baqarah [2:12] "Waspadalah! Sesungguhnya merekalah (orang-orang munafik) orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya". Oleh sebab itu jangan terlalu mudah mengatakan atau menuduh orang diluar Islam kita katakan kafir, karena belum tentu kita lebih baik dari orang kafir. Dan masalah urusan tentang keimanan dan agama itu adalah hak dan wewenang Allah yang menentukan siapa yang termasuk orang kafir dan bukan kafir. Kadang-kadang hak yang yang menyangkut keimanan itu sering dicampuri oleh yang mengaku baru sebagai Ustad, Kyai, Ulama sudah memasuki Hak Kewenangan Allah. Kalau ini disadari tidak sepantasnya manusia mengkafirkan orang lain, sedangkan Nabi Muhammad saja sebagai Rasul tidak pernah memvonis orang lain sebagai kafir.

Dan Allah telah memutuskan bahwa " Tidak ada paksaan dalam menganut Agama karena sudah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah.[Al-Baqarah 2:256]" Dan ditegaskan lagi dalam ayat lain dalam surat Al-Anam [6:108] "Janganlah kamu mencela berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah. Demikianlah sunnah Kami yang berlaku bagi setiap umat yaitu memandang baik setiap pekerjaan yang dilakukannya " Kalau petunjuk Allah yang ada dalam Al-Qur'an dilaksanakan dengan benar tidak perlu orang yang mengaku agama Islam atau organisasi atau pimpinan agama, ulama, ustad tidak akan memusuhi agama lain apalagi mengkafirkan orang lain. Karena hal tersebut bukan merupakan tanggung jawab kelompok,organisasi atau orang per orang yang namanya menyangkut orang mau beriman atau tidak kepada Islam itu adalah urusan Allah bukan urusan manusia. Sebab semua pertanggung jawaban masalah keimanan adalah urusan masing-masing secara perorangan. Demikian mudah-mudahan ada manfaatnya kepada kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar