Aku sendiri menikmati hidupku. Terlepas bahwa sebetulnya aku banyak masalah (bila dilihat dari kacamata orang lain). Ada yang nanya apa aku gak kangen anak-anakku yang sekarang ikut bapaknya. Aku cuman bilang, sepertinya aku diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar dulu. Situasi sangat tidak mendukung, aku kehilangan tabungan, harta benda, kendaraan karena sempat ikut bisnis yang salah. Sekarang aku mulai lagi dari awal mencoba survive. Ditambah belajar Islam. Bagaimana hubunganmu dengan anak-anakmu, ada yang tanya gitu. Aku bilang baik-baik saja, soalnya aku guru jadi kalo pas sekolah libur aku juga libur. Aku bisa menengok mereka. Dan sementara ini aku sedang belajar lagi tentang kehidupan.
Tadinya banyak nanya-nanya, dan orang-orang di sekitarku banyak yang kesel... hehehe... nanyanya aneh-aneh dan mereka cenderung ninggalin aku. Dan sekarang malah aku yang menjawab pertanyaan aneh-aneh. Aku juga banyak berkenalan dengan orang-orang, tapi jarang yang personal gitu. Biasanya dalam satu komunitas aja. Lagian orang yang ngobrolnya nyambung tempat aku nanya-nanya orangnya sibuk. Maklum aja deh...
di lapangan sofbol UGM
Rumahku di tengah kota dan tujuanku pinggiran kota semua. Untung masih di Jogja, kalo di Jakarta gak tau deh. Selama masih bisa bernapas, makan enak, banyak teman, survive bekerja dan dapat uang yang Insya Allah halal aku sih selalu bersyukur. Ambisinya macam-macam sudah gak ada, ingin mengabdi ke sekolahan yang kebetulan juga usaha keluarga.
Jodoh? Hmmm... lagi suka bertemen aja, gak tau di komunitas banyakan ngobrolnya sama yang muda-muda suka dipanggil mbak atau bu gitu. Yah, dituakan... hehehe... emang udah tua sih ya terima aja. Soal hidup itu mudah atau tidak tergantung persepsi akan kehidupan. Kalo yang kemampuan otak memang jauh di atas rata-rata mestinya punya kemampuan lebih untuk sukses secara materi. Tapi aku mencoba untuk meluruskan hidupku, memperbaiki hatiku juga agar bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku... that's it...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar