Selasa, 26 Februari 2013

Wacana poligami

Aku barusan dapat telpon dari seorang laki-laki berumur 4 tahun di atasku. Awalnya pembicaraan menarik karena dia tertarik dengan makanan sehat dan mengikuti seminar untuk menghilangkan pikiran negatif. Dan setelah membahas wacana poligami ceritanya begini. Dia duda, dan sedang merencanakan pernikahan, tapi di otaknya melekat erat wacana poligami.

"Aku sekarang sudah hampir setengah abad, dan aku menyesal dulu mengabaikan ayat di Qur'an yang membolehkan poligami. Sekarang aku berniat untuk melakukan poligami."

"Menurutku wanita yang tidak membolehkan suaminya poligami adalah wanita yang tidak mendukung suaminya ke surga".

"Saat mau menikah aku sudah nyatakan bahwa kamu bisa jadi gak akan tahan sama aku, karena aku berencana melakukan poligami. Aku punya perspektif positif tentang poligami".

"Culture Indonesia sangat meremehkan poligami. Kenapa pelaku poligami dihujat".

"Bukankah yang melakukan poligami itu dapat pahala yang banyak karena mensejahterakan lebih banyak wanita".

"Laki-laki itu jenisnya hanya ada dua, homo dan buaya. Dan aku adalah buaya yang beriman dan bertakwa".

Dan lainnya yang membuatku pengen ketawa. Ini orang kepedhean banget dalam menterjemahkan poligami. Pasti orangnya terpusat pada wacana poligami gak mau mikirin ayat lain untuk mengharap ridho Allah. Muter-muter aja mempersulit diri. Kayak terobesi gitu.

Kalau mau poligami ya poligami aja, tapi gak usah nyalahin yang memutuskan gak mau poligami. Gak usah menyalahkan sebagian besar ibu-ibu di Indonesia yang keberatan suaminya poligami. Dan bisa seyakin itu bahwa dirinya beriman dan bertakwa.

Setahuku di Qur'an dinyatakan bahwa laki-laki boleh menikah dengan 2, 3 , 4 tapi kalau tidak bisa adil lebih baik satu saja. Pernah aku mendengarkan pengajian, niatnya apa untuk poligami, dan bagaimana pelaksanaannya, tapi pada dasarnya di padang mahsyar laki-laki yang tidak adil secara lahir batin bila mempunyai istri lebih dari satu jalannya akan miring.

Mau poligami atau tidak itu adalah pilihan. Dan Islam sangat memperhatikan hati. Membahagiakan orang lain, membuat tenteram hati, tidak menyakiti hati orang lain seharusnya muslim bersikap seperti itu. Diupayakan kalopun mau poligami juga berusaha menyejukkan hati, bukan menyalahkan culture, tetangga dan keluarga yang menghujat katanya. Hidup itu pilihan kok, selama pilihan itu bisa dilaksanakan dengan menyejukkan kenapa tidak, hanya memang beresiko tekanan berat dari keluarga dan lingkungan. Tidak usah menyalahkan keluarga besar atau lingkungan lebih baik intropeksi diri.

"Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah (kerabat Abu Jahl) meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka (anak Abu Jahl) dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku terlebih dahulu, Fatimah Bagian dari diriku, apa yang meragukan dirinya meragukan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya menyakiti hatiku, aku sangat kwatir kalau-kalau hal itu mengganggu pikirannya (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, Hadits: 9026). 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempunyai dua orang istri lalu lebih cenderung kepada salah seorang dari keduanya, maka pada hari kiamat dalam keadaan miring”. (HR. Abu Dawud 3133, Turmudzi 1141, Nasa’i 7/63, Ibnu Majah 1969, Hakim 2/186) 


Allah berfirman 
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An Nisaa : 3)

Allah berfirman
 Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisaa : 129)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar