Hidup itu memang penuh dengan pemahaman yang berbeda-beda. Dulu aku pernah mengenal seorang laki-laki tidak mau memberi mas kawin peralatan sholat alasannya tidak mau menanggung beban kalau istrinya tidak sholat dia mempertanggungjawabkan itu semua.
Dari yang aku dengar ceramah dari seorang ustad, mau dengan mas kawin apa saja, seorang suami mempertanggungjawabkan semua perbuatan istrinya di akhirat. Bila kita memang ingin selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, takut pada Allah, maka kita akan selalu hati-hati dalam bertindak.
Seorang istri bisa menjadikan suaminya masuk surga atau sebaliknya malah masuk neraka. Tapi hidup itu bukan sekedar takut pada surga neraka, kita mengharap ridho Allah, mendekatkan diri pada Allah, tahu Allah mengawasi kita, berusaha menjaga perilaku kita.
Seorang suami yang mempunyai istri melakukan maksiat, memang bagi yang benar-benar menjalankan ketentuan Allah, harus mengingatkan. Istri masih ndableg, pisah kamar. Lalu setelah itu disentil (atau pukul dengan siwak). Masih bandel juga, lepaskan, ceraikan. Memang bercerai adalah hal yang dibenci Allah, tapi bila istri bermaksiat dan sudah ditegur tidak mau menurut, lebih baik mengamputasi bagian tubuh yang sakit.
Tapi seorang istri mesti selalu menuruti suami, kecuali suami mengajak maksiat. Ridho Allah adalah ridho suami, selama suami memang mengajarkan kebaikan. Bila seorang suami bersikap kurang menyenangkan, selama tidak membuat istri sampai sakit karena pukulan atau depresi, istri mesti memperjuangkan untuk merawat suami dan mengingatkan ke jalan yang benar. Istri yang bisa mengajak suaminya untuk lebih beriman akan masuk surga lebih dulu daripada suami.
Beberapa lak-lakii telpon aku ngajak diskusi soal polygami (bahkan mau menjadikan aku istri ke-sekian). Bagi laki-laki yang benar-benar beriman dan takut pada Allah, akan berpikir panjaaaang sebelum melakukan polygami. Pertanggungjawaban pada satu istri saja sudah berat, masih mau nanggung pertanggungjawaban lagi. Di padang mahsyar laki-laki yang melakukan polygami dan tidak adil, jalannya miring, itu karena dosa dari mendzalimi pada salah satu istri.
Di Al Quran, sebetulnya lebih menyarankan laki-laki menikah satu saja. Tapi ada saja yang berusaha meyakinkan ke aku, dia pendukung polygami karena Al Qur'an mendukung polygami. Terserah pemahaman seperti itu, tapi bila ada orang yang mempermainkan ayat-ayat Al Qur'an, betapa berat pertanggungjawabannya di akhirat. Laki-laki yang di otaknya berangan-angan pengen punya istri banyak, kalo bosen dengan istri satunya bisa dengan istri yang lain, biasanya memang mengada-ada.
Gak sekali dua kali aku ditelponin laki-laki yang otaknya sibuk dengan kegelisahan pengen polygami. Katanya kalo darurat ya boleh nikah diam-diam, nikah siri, ngomong pada istri pertama nyusul. Kayaknya kepengen banget itu menyakitkan, udah gak bisa berpikir sehat, dan pemahaman ayat Qur'an dan hadits diambil sepotong-sepotong diterjemahkan semaunya untuk kepentingan sendiri.
Misalnya polygami katanya sunnah Rasul, emang mau nikah dengan janda tua dan miskin, dan disetujui istri pertama? Niat nikah polygami jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lagi bukan kepuasan sexual semata, tapi membantu yang sedang kesulitan. Biasalah orang kebanyakan mengejar kepuasan dunia. Tidak sanggup menjaga kemaluan dengan berangan-angan panjang. Hidup itu sebaiknya mengejar akhirat, dunia akan mengikuti. Laki-laki, sibukkan dengan beramal sholeh, bukan dengan berangan-angan kawin lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar