Aku beruntung lahir dalam keluarga yang orang tuaku bersahabat dengan beberapa ketua Muhammadiyah. Seperti pak Amien Rais dan pak AR Fakhruddin. Dan sekarang salah satu guruku adalah pak Munichi yang merupakan cucu dari KH Ahmad Dahlan.
Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Untung ada filmnya, jadi memudahkan untuk memahami perjuangan beliau. Aku sampe nangis bercucuran air mata saat menonton filmnya. Kejadian yang aneh, uangku yang aku siapin 20 ribu ketinggalan di rumah. Aku bayar dengan uang recehan sampe menuangkan isi dompet di atas meja penjualan tiket. Persis ada 20 ribu. Karena berangkatnya pake angkot pulangnya aku jalan kaki sambil menangis dan mukaku kututup dengan kerudung. Dari studio XXI sampe rumah sekitar 3 km. Ahhhh... aku tidak bisa seperti blogger-blogger lain yang bisa bercerita dengan pemilihan kata unik, kalimat indah yang menghanyutkan. Tulisanku ala kadarnya saja...
Kenapa mesti ada bid'ah. Waktu aku belajar Islam di mesjid salah satu aliran yang terkenal eksklusif, konon bukan penganut aliran ini lantai masjid akan dipel lagi karena dianggap kafir, aku merasa nyaman di situ. Diajari dengan sabar oleh guruku seorang wanita. Dan aku menangis saat disarankan jangan kesana lagi. Oleh pak Munichi, kesalahan aliran ini seharusnya sesama muslim tidak boleh mengkafirkan sesama muslim juga karena beda aliran atau pemahaman.
Bagaimana dengan NU? Aku pernah menyumbang pesantren berbasis NU, karena aku sering tukar pikiran dengan salah satu santrinya. Walaupun menurut Muhammadiyah ada tradisi di NU yang merupakan bid'ah misalnya tahlilan, mitoni, selametan, ziarah kubur ke Wali dan seterusnya. Di keluargaku yang kental Muhammadiyah, tidak menyelenggarakan tahlilan untuk almarhum bapakku. Tapi menurut orang NU, tanpa melakukan tradisi rasanya gak mantep menjalankan Islam. Yah, kayak ultah gitu, kalo ada uang ya dirayakan, kalo gak ada masak ngutang-ngutang hanya demi sebuah penghormatan dari orang-orang sekitar. Menurutku sih ibadah itu ditujukan pada Allah, bukan mengharapkan pujian orang lain, malah jadi riya'.
Bukan masalah bid'ahnya, atau menurut Muhammadiyah bid'ah adalah ibadah yang tidak diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Hukum bid'ah itu tertolak, jadi ibadahnya tidak diterima Allah. Aku tidak memasalahkan berkumpul dengan tetangga, mengucap tahlil bareng-bareng, makan bareng. Tapi aku yakin tidak banyak yang paham apa itu bid'ah, orang-orang hanya sekedar ikut-ikutaan melakukan tahlilan saja. Gak enak kalo tidak melakukan nanti diomongin tetangga. Jadi sebetulnya ibadah ditujukan pada Allah atau untuk tetangga dan orang lain? Aku rasa mereka ini tidak paham tentang hukum-hukum Islam yang benar. Kalo punya uang berlebih, boleh mengadakan tahlilan dengan niat silaturahmi dan mengucap tahlil untuk mendekatkan diri pada Allah. Tapi bila gak ada uangnya, masak maksain juga siiiih?
Seorang artis penyanyi yang dulu sempet manggung di Jogja gak mau di hotel milih tinggal di rumahku dengan teman-temannya ikutan Hizbut Tahrir. Tentunya ada pro kontra dakwah versi ini. Toh aku masih menyapa juga di twitter.
Seorang temenku blogger ikutan khuruj dari kelompok Jama'ah Tabligh. Menurutnya banyak pahala bila memakmurkan masjid, dan menyiarkan tentang Islam ke masjid-masjid di pelosok. Lagi-lagi baca pro kontra tentang kegiatan ini. Sebuah situs menyebutkan, sebetulnya ibadahnya untuk Allah atau untuk penggagas awal Jama'ah ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada peningkatan spiritual bila melakukan khuruj. Nah inilah. Sama-sama mengaku Islam tapi dia tidak mau membalas bila kusapa. Perbedaan pemahaman pengamalan ajaran Islam. Aku merasa dia sudah memutuskan tali ukhuwah dengan sesama muslim. Tapi mungkin salahku juga... kebanyakan nulis e-mail untuknya... jadi yah maklum deh. Soal peningkatan spiritual memang bagus, tapi bila kusebut yang dilakukannya bid'ah atau ibadah yang tertolak pasti dia bakal ngambeg lagi. Soalnya kita tidak bisa mengharamkan hal yang tidak haram, dan tentunya tidak perlu mewajibkan yang sebetulnya sunnah. Memakmurkan masjid itu bagus, tapi apa follow upnya. Pembahasanku dengan teman dekatku juga gitu, lebih bermanfaat membangun suatu pesantren yang memberikan ilmu secara kontinyu, bukan insidentil belaka.
Yaaaah... aku memang masih cethek banget bicara tentang Islam. Apa sih aku, cuman seorang guru playgrup yang mengajarkan muridku untuk berdoa sebelum dan sesudah makan. Mengajarkan mengucapkan kalimat thoyibbah seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Astaghfirullah. Juga mengajarkan ayat-ayat pendek seperti Al Fatihah, Al Kautsar, An Nas, Al Ashr, dan beberapa lagi. Juga mengajarkan iqro. Mengajarkan tentang kasih sayang, saling menghargai sesama teman, dan mirip teletubbies... berpelukaaaaan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar