Jumat, 15 Maret 2013

Penyesalan selalu datang terlambat

Aku pernah cukup akrab dengan seorang laki-laki seumurku, dia di kepala 4 masih jomblo. Ceritanya banyak, biarpun gak punya anak katanya keponakan-keponakannya sangat sayang padanya.

Dia mengaku kalo tidak pernah sholat, alasannya ortunya. Ortunya berdarah biru, keturunan bangsawan dan menjalani ilmu Kejawen. Aku juga orang Jawa juga, cuman aku malah gak tau apa itu Kejawen sebetulnya. Setelah aku ketemu dia, kira-kira akhir 2009, aku mempelajari sepintas tentang Kejawen. Dari sejarah pengIslaman di Jawa, Wali Songo adalah para hamba Allah yang sholeh. Tapi ada namanya Syeh Siti Jenar yang mempunyai konsep keTuhanan yang berbeda. Menyembah dan percaya pada Tuhan iya, tapi dengan cara yang berbeda dari Sunnah. Dari Syeh Siti Jenar inilah konsep Kejawen jadi mengakar kuat di sebagian orang Jawa. Ada semacam rasa percaya diri yang kuat, pemahaman alam semesta, kemampuan untuk berhubungan dengan leluhur, semua hal yang membuat seseorang jadi merasa kuat dan cerdas untuk memahami kehidupan ini.

Yang jadi masalahnya, akhirnya temanku ini cerita saat meninggal almarhum bapaknya proses sakratul mautnya sangat lama. Beberapa hari seperti kesakitan tapi tidak bisa meninggal. Akhirnya dipanggil guru spiritual, oleh guru ini anaknya disuruh sholat dekat ayahnya semampunya. Kata temanku dia tidak bisa sholat, jadi cuman asal-asalan sholatnya. Sejak kecil sekolah di sekolah non muslim. Akhirnya bapaknya meninggal juga. Dan anehnya ada dua kakaknya murtad, pindah agama. Mungkin trauma dengan proses kematian versi Kejawen tapi di KTP beragama Islam. Temanku sempet curhat ke aku kalo dia pengen jadi muslim yang taat. Aku bilang mau ngedukung. Apa yang terjadi... katanya setelah janjinya itu dia merasa pusing luar biasa saat teringat padaku. Dia memutuskan mendiamkan telponku dan smsku.

Banyak kejadian yang menyakitkan hatiku semenjak kejadian itu. Di komunitas temen sekolah, tiba-tiba ada gosip tidak sedap soal aku. Tiba-tiba dia aktif di komunitas dan aku tidak diberi undangan lagi kalo ada acara. Cukup shock, bermasalah dengan satu orang, efeknya sampai satu komunitas teman sekolah. Benar-benar latihan kesabaran waktu itu. Cukup membutuhkan waktu lama beberapa bulan sampai aku bisa tenang, dan memutuskan untuk tidak terlibat di acara reuni.

Banyak sudah isyarat di sekitar kita. Tentang orang yang sulit meninggal, sakit parah di hari tua, tapi gemerlap dunia membuat kita lupa. Apalagi cinta-cintaan, sudah lupa dengan dunia yang kita pijak dan pertanggung jawabannya. Aku dapat pesan dari seorang teman muslim berasal dari Mesir yang tinggal di Norwegia yang tadinya begitu antusias mau mengunjungi Indonesia. Terakhir sebelum hilang pesannya ke aku gini "kamu orang baik banget, aku gak merasa nyaman, aku bukan orang baik." Aku soalnya sempat bilang padanya, kamu bisa bahasa Arab kan, kenapa tidak membaca Al Qur'an.

Dugaanku dia juga pusing berat tiap kali mau menjawab pesanku, batinnya bergejolak. Proses untuk bisa kembali kepada Islam, memahami makna ayat Al Qur'an butuh pengorbanan yang luar biasa bagi beberapa orang. Beruntunglah yang bisa lurus tanpa kehilangan barang titipan dari Allah, seperti pasangan yang dicintai, anak, harta benda. Kita mati hanya membawa hati yang bersih dan amal ibadah kita. Tapi bukan berarti mesti menderita saat hidup di dunia ini.

Mendapatkan kestabilan emosi, ketenangan walau dijahati banyak orang memang tidak mudah. Mesti mulai lagi dari mensyukuri apa yang kita miliki. Dan mau berikhtiar untuk survive dalam kehidupan ini. Optimis ke depan, tidak mudah putus asa. Mudah ya ngomongnya, melakukan memang tidak mudah. Kadang ada acara jatuh bangun juga, hehehehe... Tapi akhirnya kita berusaha memperbaiki keimanan, ketakwaan kita agar tidak terlambat saat meninggal nantinya nanti. Karena penyesalan selalu datang terlambat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar