Kamis, 20 Oktober 2011

Proses sakratul maut yang lama dan menyakitkan, naudzubillah min dzalik

Salah satu kejadian yang gak akan aku lupakan adalah pertama kali aku pindah di Jogja pertengahan tahun 2009, aku sempet dijodohin oleh temenku. Hehehe... jadi malu. Temenku cowok ini masih jomblo dan super duper pemalu. Gak ada yang kurang dari dirinya agar wanita tertarik padanya. Punya usaha mapan, baju mahal-mahal dan keluarga kaya raya.

Sempet sebulan aku jalan sama dia, aku dalam keadaan canggung, dia juga #jadimalu. Kebetulan pas itu bulan puasa, jadi cuman muter-muter aja gak jelas. Dia nunjukin rumahnya yang dikontrakkan, cerita bahwa dia sayang anak-anak, sayangnya dia gak pernah shalat selama ini, boleh dibilang setahun hanya beberapa kali bahkan Jum'atan saja enggak. Alasannya, dia dididik secara Kejawen oleh orangtuanya.

Aku pikir dia benar-benar mau bertaubat, mau belajar Islam dan akan rajin menjalankan shalat. Apalagi dia cerita almarhum Bapaknya kena stroke dalam jangka waktu lama. Dan paling menyedihkan adalah proses sakratul maut yang lama sampai berhari-hari, hingga akhirnya memanggil guru spiritual. Anak-anaknya disuruh guru spiritual ini shalat, dengan aturan begini begitu. Akhirnya Bapaknya meninggal juga.

Ternyata setelah bulan Ramadhan, saat Idul Fitri bukannya minta maaf menemui aku malah menghilang. Aku sampai kebingungan. Banyak melakukan hal yang bodoh. Aku telpon sana sini ke temen-temenku yang aku anggap mengenalnya. Ternyata aslinya dia sangat introvert, menutup diri.

Dulu memang aku sangat kalut saat dia menghilang, butuh waktu lama untuk menenangkan diri, hampir setaun lamanya. Padahal tidak ada komitmen dan baru sekedar ngobrol dari hati ke hati. Aku sampai dijauhi banyak temanku karena sikapku yang "aneh". Tapi sekarang, aku jadi paham, bahwa mengenal dia adalah suatu pembelajaran. Supaya aku selalu memurnikan tauhid, tidak terpengaruh dengan ilmu spiritual versi ini versi itu. Biarlah dia menemukan jalannya sendiri.

Aku rasa temenku yang ini masih beruntung karena keluarganya masih berada, ada temenku lain bapaknya kena stroke, hartanya habis dijual untuk biaya pengobatan, padahal tadinya kaya raya, hidup berlebihan. Hidup memang seperti roda, bisa di atas bisa di bawah. Uang tidak bisa membeli kematian yang tenang, hanya uang yang banyak disedekahkan akan membawa manusia meninggal dengan tenang agar akhirnya berada di sisi Allah...

Baca  juga Sunan Kalijaga vs Kejawen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar