Tulisan di sini memang seperti kejadiannya banyak sentilan untuk diriku. Misalnya, ada teguran, halo, jangan menulis amarah di blogmu, oke aku hapus postingan tentang amarah. Kali ini adalah tentang kritikan. Aku belajar untuk menerima kritikan. Ada yang ekstrim ngatain aku munafik segala, dia bikin blog sendiri khusus buatku.
Tapi tidak semua orang mau menerima kritikan. Malah kadang yang tersinggung temannya. Mirip gang itulah, hanya karena masalah sepele, gontok-gontokan dengan apa yang disebut toleransi. Ada blogger suka menulis pedas tentang orang terkenal, tapi begitu dikritik ngambeg. Langsung menulis, harusnya orang mesti intropeksi pada dirinya sendiri. Di sisi lain juga ada kalimat indahnya tentang pertemanan "pertemanan adalah bila teman ini mau meluruskan, bukan membiarkan tersesat". Kira-kira begitulah. Atau pendapat lain tentang kritikan uruslah dirimu sendiri, yang penting aku tidak merepotkan orang lain.
Kebijaksanaan kadang datang karena batu sandungan. Dan manusia mesti mau intropeksi demi kebaikan dirinya sendiri. Seorang mukmin malah harusnya selalu mencari nasehat kemana-mana, tidak akan pernah kenyang dengan nasehat. Menyamarkan ceritapun ternyata tidak mudah. Ada yang ngerasa ditohok dan langsung bereaksi.
Ada temenku kuliah komentar tentang aku dimusuhi oleh orang yang aku kritik "hanya orang yang hatinya damai sanggup dikritik". Dia bekerja di lingkaran dalam Mario Teguh, jadi aku langsung komentar "salam super". Aku tetap pada komitmenku untuk menulis hikmah, biarpun yang memusuhiku pemimpin gang di blogger sekalipun. Tapi aku berusaha mesti lebih bijaksana lagi tentang menggambarkan ceritanya.
Dan aku yakin semua yang terjadi padaku adalah demi kebaikanku dari Allah, tetap berprasangka baik atau husnudzon. Dimusuhi tetap bisa menemukan kedamaian, karena hidupku bukan mencari keridhoan orang lain tapi mencari keridhoan Allah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar